Aku pernah bilang cinta itu sederhana. Bahwa cinta adalah soal sayang menyanyangi. Ketika kau menginginkannya, ketika kau ingin selalu bersamanya, ketika kau ingin terus menjaganya, maka itu adalah cinta yang ingin kau berikan. Cinta tidak perlu dibeli. Cinta pun tidak dijual. Cinta bisa kau dapatkan dimana saja, tergantung hatimu. Tidak butuh uang untuk mendapatkannya.
Cinta akan membawa kebahagian. Cinta akan membawa lelahmu pergi jauh-jauh. Cinta akan membuatmu lebih berani melawan masalahmu. Bahwa cinta selalu memberi percaya diri akan dirimu untuk bisa hidup lebih lama, untuk bisa menikmati waktu dengan orang yang kau cintai.
Tapi kini aku katakan bahwa cinta itu tidak sesederhana apa yang dibayangkan. Ketika kau telah mendapatkan cinta, maka kau harus melakukan perjalanan untuk mendapatkan kebahagian dari cinta. Kau butuh pengorbanan untuk mendaptkan cinta yang luar biasa.
Saat ini aku menyadari bahwa walau cinta tidak pernah gratis, tapi cinta butuh kepastian.
Kepastian apakah dirimu memang selalu dicintai. Apakah dirimu memang yang selalu diingini. Kau tidak akan pernah tau bila orang yang kau cintai tidak pernah melakukan apapun terhadap dirimu. Kau sibuk memberikan kesungguhan akan dirimu, sibuk memberikan hatimu padanya.
Rabu, 05 Agustus 2015
Jumat, 31 Juli 2015
Surat ?
Apapun ini namanya, tetap saja ini selalu untukmu...
Tidak banyak yang bisa dilakukan dalam keadaan seperti ini. Tidak ada yang bisa disalahkan, tidak juga aku apalagi dirimu.
Aku tidak ingin membawa-bawa waktu, hanya saja ini sudah tahun kelimaku. Dan belum ada yang berubah. Kau tau sendiri apa yang kumaksud.
Kekuatanku akan tentangmu bukan semata keinginanku. Secara logika aku tidak punya jaminan apapun untuk tetap mempertahankanmu. Tapi sayang, perempuan lebih sering menggunakan perasaannya dibandingkan logikanya. Maka aku pun tidak bisa menolak hatiku atas keberadaan dirimu.
Belum ada yang berkurang sampai saat ini, semuanya masih utuh. Hanya saja mungkin hanyalah keraguan yang semakin banyak terselip disetiap harapanku.
Kuakui bahwa dirimu adalah yang pertama. Apakah itu jaminan bahwa kau yang terakhir juga ?
Bila boleh, aku ingin bila bahwa hampir setengah dari waktu di tiap hariku. Kadang aku merasa menjadi manusia yang paling bodoh karena dirimu ?
Apa ada imbalan atas semua yang kuberikan padamu ? Tapi setengah dariku tetap bersikeras selalu memberikannya padamu.
Aku bukan orang yang seperti itu, lihat saja aku masih seperti yang dulu, ketika kau masih memilihku.
Karena ada yang bilang padaku, bahwa tidak ada yang gratis didunia ini, tapi cinta itu gratis.
Tidak banyak yang bisa dilakukan dalam keadaan seperti ini. Tidak ada yang bisa disalahkan, tidak juga aku apalagi dirimu.
Aku tidak ingin membawa-bawa waktu, hanya saja ini sudah tahun kelimaku. Dan belum ada yang berubah. Kau tau sendiri apa yang kumaksud.
Kekuatanku akan tentangmu bukan semata keinginanku. Secara logika aku tidak punya jaminan apapun untuk tetap mempertahankanmu. Tapi sayang, perempuan lebih sering menggunakan perasaannya dibandingkan logikanya. Maka aku pun tidak bisa menolak hatiku atas keberadaan dirimu.
Belum ada yang berkurang sampai saat ini, semuanya masih utuh. Hanya saja mungkin hanyalah keraguan yang semakin banyak terselip disetiap harapanku.
Kuakui bahwa dirimu adalah yang pertama. Apakah itu jaminan bahwa kau yang terakhir juga ?
Bila boleh, aku ingin bila bahwa hampir setengah dari waktu di tiap hariku. Kadang aku merasa menjadi manusia yang paling bodoh karena dirimu ?
Apa ada imbalan atas semua yang kuberikan padamu ? Tapi setengah dariku tetap bersikeras selalu memberikannya padamu.
Aku bukan orang yang seperti itu, lihat saja aku masih seperti yang dulu, ketika kau masih memilihku.
Karena ada yang bilang padaku, bahwa tidak ada yang gratis didunia ini, tapi cinta itu gratis.
Senin, 09 Maret 2015
Manusia-manusia Teramat Sayang
Halooooo
Mungkin sebagian orang mengatakan bahwa menulis di blog sudah sedikit ketinggalan. Namun bagi penulis, mungkin melalui blog ini lah semua suara yang tak terdengar bisa diungkapnya, walau siapalah yang hendak membacanya.
Penulis sudah mulai masuk tahun terakhir dibangku kuliahnya. Pasti banyak kejadian-kejadian dan manusia-manusia lain yang telah ditemuinya, dan mungkin juga menjadi sesuatu yang tak mudah dilupakan oleh penulis itu sendiri.
Tulisan kali ini bukan ingin menceritakan manusia lain, hanya saja Penulis kesulitan untuk mengungkapkan apa yang selama ini yang sedang dirasakannya, antara tidak ingin memberi tahu atau memang tak ingin ada yang tahu. Manusia-manusia ini adalah sebagain kecil dari sesuatu yang tidak pernah terlupakan oleh penulis. Bahwa mereka menjadi sesuatu yang sangat berarti buat Penulis.
Aku mengenal David, Diansyah, dan Kara ditengah kepengurusanku di suatu organisasi di kampus. Mereka direkrut menjadi anggota muda di divisiku. Mereka memang adik kelasku. namun bukan berarti aku lebih superior dibandingkan mereka.
Selama perjalanan waktuku bersama aku, rasanya aku bukan hanya menganggap mereka sekedar adik kelasku. Mereka sudah seperti adik kandungku sendiri. Maklum saja, aku merupakan manusia yang paling egois terhadap orang yang aku sayang.
David dan Diansyah adalah teman akrab sejak lama. Tidak lama kemudian, ada hal yang meretakkan mereka. Hingga akhirnya mereka harus pecah. Hatiku berantakan melihat kondisi mereka. Hampir 3 bulan mereka membisu, hampir 3 bulan lebih mereka harus jalan sendiri-sendiri, harus kucing-kucingan untuk saling menghindar. Aku dan Kara kebingungan menghadapi ini. Disatu sisi aku ingin menemani David, namun di sisi lain aku ingin menguatkan Diansyah. Maka hancur juga semangatku, setiap melihat mereka jalan masing-masing. Namun tidak ada tebing yang tak bisa didaki, tak ada batu yang tak bisa hancur. Selalu ada titik terang dalam gelap. Dan semoga ini menjadi yang pertama dan yang terakhir kalinya.
Bahwa tidak butuh alasan untuk bisa sayang. Bahwa aku tidak punya alasan yang spesifik kenapa aku harus sayang pada mereka. Aku hanya sayang mereka dengan segala bentuk mereka, segala macam bentuk kekurangan dan kelebihan mereka. Tidak juga butuh syarat apapun untuk rasa sayang. Dan tidak butuh balasan juga untuk sayang yang telah diberikan.
Bahwa mereka sudah menjadi salah satu dari manusia yang sangat berarti buatku, terserah mereka harus membalasnya atau tidak. Bahwa memikirkan mereka adalah sebuah kenikmatan dalam setiap hariku, bahwa mengkhawatirkan mereka adalah kebahagian buat hidupku, bahwa bisa membantu mereka adalah sebuah anugerah yang selalu ingin bisa kulakukan.
Bahwa egoisku yang paling besar adalah mereka. Bahwa sejujurnya, aku malu untuk mengatakan bahwa aku tidak ingin terlalu jauh dari mereka. Bahwa aku akan menangis bila mereka terluka.
Maka cemburuku amatlah besar pada mereka. Bila mereka dekat dengan temanku yang lain, bila temanku punya urusan dengan mereka diluar dariku.
Tanpa kusadari bahwa mereka juga punya dunia mereka sendiri, punya teman-teman seangkatan mereka. Maka akan kubawa kemana rasa cemburu dan egoisku ? Bahwa aku harus rela bila memang mereka punya jalan mereka sendiri. Bahwa mereka punya dunia mereka sendiri, yang mungkin tidak bisa aku masuki.
Maka cukuplah rasa sayangku hanya sampai di hatiku saja, tanpa perlu mereka tahu. Bahwa cukuplah rasa cemburu cukup sampai pada rasa sesak yang kualami setiap melihat mereka dengan yang lain. Cukuplah dengan doa saja yang kusampaikan pada mereka disetiap hariku, bahwa mereka harus tetap saling bersama, harus selalu bahagia.
Maka aku akan kembali pada jalanku sendiri, walau aku tidak terlalu suka untuk sendiri. Tapi bila memang tidak ada yang bisa menemaniku, aku bisa apa ?
Namun keberadaan mereka bertiga, tidak akan pernah terlupakan. Bisa bersama mereka selalu sudah menjadi harapan yang selalu kuharap bisa menjadi kenyataan. .
Kakak sayang kalian selalu, selaluu ..
Senin, 25 Agustus 2014
Surat Tak Tersampaikan
Assalammualaikum.
Ini bukan surat yang pertama yang pernah kubuat, bukan juga surat terakhir yang ingin kubuat. Tapi mungkin ini surat yang sangat ingin selalu aku berikan untukmu. Walau hanya berujung pada buku harianku atau dalam blog ini.
Sebenarnya aku tidak punya cukup alasan yang kuat, karena setengah dari aku menginginkan engkau membaca surat ini, tapi sebagian lagi dari ku sangat takut bila surat ini menjadi beban tersendiri untukmu. Atau mungkin saja, keberadaan surat ini adalah hal yang sangat tidak penting bagimu, sejujurnya itu yang paling kutakutkan.
Aku punya banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu. Apa yang terjadi dengan kita sekarang ? Engkau seperti membuat jarak dariku. Aku tidak pernah tahu alasan engkau melakukan ini padaku. Bila engkau membaca ini, aku mohon berikan jawaban segera untukku.
Masih ingat kejadian tahun lalu ? Kita masih sempat jalan-jalan sama teman-teman yang lain, malamnya kita lanjut ke bioskop. Akh, kenangan masa lalu yang sungguh sulit dilupakan, bagiku ya. Itu hal yang kurindukan tahun ini. Dulu engkau masih bisa memperlakukanku seperti teman-teman kita yanglain. Ada apa ? Kenapa berubah ? Apa aku punya salah tersendiri ? Bila engkau membaca ini tolong bantu untuk mejawab ya.
Aku sadari bahwa kita punya cerita masa lalu tersendiri. Jangan bilang itu menjadi alasanmu untuk melakukan hal ini padaku. Maafkan aku, bila memang karena itu mungkin aku sedikit meyesal atas kejadian kita dimasa lalu.
Maaf, bila aku terus melibatkanmu bila menyangkut soal hatiku. Yang sebenarnya bukan lagi menjadi tanggung jawabmu. Puti merasa staknasi dibatas ini. Seperti pepatah bilang, "lebih baik punya cerita yang akhirnya sedih dibandingkan punya satu cerita yang tidak tahu akhirnya yang mana".
Sampai saat ini aku sendiri tidak mengerti apa mau diri ini. Apa aku terlalu egois ? Untuk terus mecoba menahanmu tetap disini, sedangkan sayapmu terlalu lebar untuk tidak direntangkan. Lagi pula, maaf, kamu seperti belum pernah memberikan akhir untukku. Maksudku, menyuruhku untuk berhenti, yaa kamu belum pernah meyuruhku untuk berhenti. Kamu masih ingat saat perpisahan sekolah kita dulu, saat kamu tidak pernah mau foto denganku ? Lalu kamu bilang, tenang saja , karena kamu bilang bahwa kita masih punya waktu yang panjang. Apa maksud "kita" disini ?
Sejujurnya, kamu memang masih istimewa buatku. Masih dalam ilusi sadar dan bawah sadarku. Masih ada kamu disetiap hariku, tapi hanya terhenti dalam bayang-bayangmu saja. Rasa ini terasa seperi membunuhku.
Puti pengen mengakhirinya baik-baik. Agar puti juga bisa pergi dengan baik-baik, dan doa yang puti berikan untukmu juga akan terasa lebih tulus lagi. Setidaknya ini berakhir, itu saja, walaupun Sad Ending. Tapi aku bakalan tahu mau melanjutkan hidup kemana, dan mau meletakan hati ini kemana.
Hanya saja aku takut untuk harus jujur bahwa hati ini masih saja memilih kamu. Tapi kenyataan yang ada bahwa aku sudah menjadi bagian masa lalumu. Rasa takut akan sebuah "sejarah", konotasi untuk sesuatu dimasa lalu, yang hanya bisa dikenang.
Awal pertama cerita kita, hingga jatuh bangun perjalanan kita adalah hal yang paling menyakitkan untuk menjadikannya sejarah, yang hanya bisa direkam, lalu hanya dimainkan ulang dikepala, yang akhir ceritanya hanyalah sebuah tangisan kangen.
Maka seperti kata Dee, aku juga benci untuk menjadi Sie. Dokumentasi untuk perjalanan kita. Yang artinya, hanya aku yang tersiksa, membiarkan potongan-potongan waktu kita terekam jelas tanpa cela. Sedang dirimu? sibuk membuat perjalanan baru.
Maka bantu aku untuk bisa memainkan peranku, dan jangan pernah menjauh lagi. Biarkan aku memainkan peran sebagai "mantan" yang bisa menjadi teman yang baik saja, bukan "teman baik". Anggap saja untuk membayar jerih payah aku untuk sandiwara tawaku. Bisa engkau akui bahwa aku sangat lihai untuk tetap terlihat bahagia dengan merelakan apa yang disayang harus pergi dan tidak bisa dimiliki.
Biarkan aku menikmati tawamu lagi. Tolong, berpura-puralah bodoh ketika aku tidak bisa memaikan peranku seperti biasanya, mungkin saja aku lelah. Tetapi percayalah, bahwa aku akan memainkannya lebih baik lagi, jadi jangan pernah pergi menjauh. Anggap saja aku seperti teman-temanmu yang lain.
Surat ini tidak akan pernah engkau terima secara langsung, dan tidak akan pernah aku berikan secara langsung untukmu. Tapi, andai saja engkau membaca ini, kalau boleh kamu bantu aku untuk mengakhiri ini saja, mungkin awal-awalnya aku akan bersndiwara tapi bila engkau terus membantu aku maka semoga aku bisa benar-benar merelakanmmu, bukan melupakanmu.
Kamu adalah orang yang tidak pernah bisa aku mengerti. Surat ini tidak akan tersampaikan, mungkin aku hanya ingin berdialog dengan hatiku sendiri, bernegosiasi dengan jiwaku, tentang kamu yaa masih tentang kamu...
Ini bukan surat yang pertama yang pernah kubuat, bukan juga surat terakhir yang ingin kubuat. Tapi mungkin ini surat yang sangat ingin selalu aku berikan untukmu. Walau hanya berujung pada buku harianku atau dalam blog ini.
Sebenarnya aku tidak punya cukup alasan yang kuat, karena setengah dari aku menginginkan engkau membaca surat ini, tapi sebagian lagi dari ku sangat takut bila surat ini menjadi beban tersendiri untukmu. Atau mungkin saja, keberadaan surat ini adalah hal yang sangat tidak penting bagimu, sejujurnya itu yang paling kutakutkan.
Aku punya banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu. Apa yang terjadi dengan kita sekarang ? Engkau seperti membuat jarak dariku. Aku tidak pernah tahu alasan engkau melakukan ini padaku. Bila engkau membaca ini, aku mohon berikan jawaban segera untukku.
Masih ingat kejadian tahun lalu ? Kita masih sempat jalan-jalan sama teman-teman yang lain, malamnya kita lanjut ke bioskop. Akh, kenangan masa lalu yang sungguh sulit dilupakan, bagiku ya. Itu hal yang kurindukan tahun ini. Dulu engkau masih bisa memperlakukanku seperti teman-teman kita yanglain. Ada apa ? Kenapa berubah ? Apa aku punya salah tersendiri ? Bila engkau membaca ini tolong bantu untuk mejawab ya.
Aku sadari bahwa kita punya cerita masa lalu tersendiri. Jangan bilang itu menjadi alasanmu untuk melakukan hal ini padaku. Maafkan aku, bila memang karena itu mungkin aku sedikit meyesal atas kejadian kita dimasa lalu.
Maaf, bila aku terus melibatkanmu bila menyangkut soal hatiku. Yang sebenarnya bukan lagi menjadi tanggung jawabmu. Puti merasa staknasi dibatas ini. Seperti pepatah bilang, "lebih baik punya cerita yang akhirnya sedih dibandingkan punya satu cerita yang tidak tahu akhirnya yang mana".
Sampai saat ini aku sendiri tidak mengerti apa mau diri ini. Apa aku terlalu egois ? Untuk terus mecoba menahanmu tetap disini, sedangkan sayapmu terlalu lebar untuk tidak direntangkan. Lagi pula, maaf, kamu seperti belum pernah memberikan akhir untukku. Maksudku, menyuruhku untuk berhenti, yaa kamu belum pernah meyuruhku untuk berhenti. Kamu masih ingat saat perpisahan sekolah kita dulu, saat kamu tidak pernah mau foto denganku ? Lalu kamu bilang, tenang saja , karena kamu bilang bahwa kita masih punya waktu yang panjang. Apa maksud "kita" disini ?
Sejujurnya, kamu memang masih istimewa buatku. Masih dalam ilusi sadar dan bawah sadarku. Masih ada kamu disetiap hariku, tapi hanya terhenti dalam bayang-bayangmu saja. Rasa ini terasa seperi membunuhku.
Puti pengen mengakhirinya baik-baik. Agar puti juga bisa pergi dengan baik-baik, dan doa yang puti berikan untukmu juga akan terasa lebih tulus lagi. Setidaknya ini berakhir, itu saja, walaupun Sad Ending. Tapi aku bakalan tahu mau melanjutkan hidup kemana, dan mau meletakan hati ini kemana.
Hanya saja aku takut untuk harus jujur bahwa hati ini masih saja memilih kamu. Tapi kenyataan yang ada bahwa aku sudah menjadi bagian masa lalumu. Rasa takut akan sebuah "sejarah", konotasi untuk sesuatu dimasa lalu, yang hanya bisa dikenang.
Awal pertama cerita kita, hingga jatuh bangun perjalanan kita adalah hal yang paling menyakitkan untuk menjadikannya sejarah, yang hanya bisa direkam, lalu hanya dimainkan ulang dikepala, yang akhir ceritanya hanyalah sebuah tangisan kangen.
Maka seperti kata Dee, aku juga benci untuk menjadi Sie. Dokumentasi untuk perjalanan kita. Yang artinya, hanya aku yang tersiksa, membiarkan potongan-potongan waktu kita terekam jelas tanpa cela. Sedang dirimu? sibuk membuat perjalanan baru.
Maka bantu aku untuk bisa memainkan peranku, dan jangan pernah menjauh lagi. Biarkan aku memainkan peran sebagai "mantan" yang bisa menjadi teman yang baik saja, bukan "teman baik". Anggap saja untuk membayar jerih payah aku untuk sandiwara tawaku. Bisa engkau akui bahwa aku sangat lihai untuk tetap terlihat bahagia dengan merelakan apa yang disayang harus pergi dan tidak bisa dimiliki.
Biarkan aku menikmati tawamu lagi. Tolong, berpura-puralah bodoh ketika aku tidak bisa memaikan peranku seperti biasanya, mungkin saja aku lelah. Tetapi percayalah, bahwa aku akan memainkannya lebih baik lagi, jadi jangan pernah pergi menjauh. Anggap saja aku seperti teman-temanmu yang lain.
Surat ini tidak akan pernah engkau terima secara langsung, dan tidak akan pernah aku berikan secara langsung untukmu. Tapi, andai saja engkau membaca ini, kalau boleh kamu bantu aku untuk mengakhiri ini saja, mungkin awal-awalnya aku akan bersndiwara tapi bila engkau terus membantu aku maka semoga aku bisa benar-benar merelakanmmu, bukan melupakanmu.
Kamu adalah orang yang tidak pernah bisa aku mengerti. Surat ini tidak akan tersampaikan, mungkin aku hanya ingin berdialog dengan hatiku sendiri, bernegosiasi dengan jiwaku, tentang kamu yaa masih tentang kamu...
Jumat, 11 Juli 2014
Patologi Sakit Hati
“Sakitnya itu
disini.”, sambil memegang dada sebelah kirinya. Begitulah ungkapan orang
sekarang kalau sedang merasa disakiti. Dan mungkin ini sedang berlaku untukku.
Manusia terkadang harus menjadi
kambing hitam untuk sebuah kepedihan. Mengatasnamakan perilaku yang jelek,
membuat manusia terkadang harus bersalah atas dirinya. Padahal mungkin saja,
kesakitan itu akibat ulahnya sendiri. Dirinya saja yang kurang pandai
memanajemen diri. Hingga akhirnya hatinya sendiri yang terluka.
Ungkapan bahwa “Tuhan saja Maha Pemaaf”seakaan terus menyiksaku. Bahwa
aku sudah berusaha untuk melebarkan ruang tingkap pengertian untuk manusia itu
seakan seperti tidak cukup untuk melawan ingin hati ini.. Namun, sungguh rasa
sakit itu masih tetap terasa. Sedangkan ketakutanku adalah bagaimana jika semuanya berakhir dengan
sebuah kebencian.
Satu hal yang pasti bahwa aku sampai
saat ini masih berstatus manusia biasa, yang punya banyak keterbatasan. Suatu
acara di televisi berkata seperti ini, “apa kesabaran itu tidak ada batasnya ?
Ya, hanya saja manusia yang punya batas kemampuan untuk bersabar”. Sangat
mengena bagi diriku. Namun aku bertanya, apakah aku sudah berusaha untuk
bersabar terhadap manusia satu ini ? Apa kesabaranku sudah sampai pada batas
kemampuan sabarku ? Atau akunya saja yang tidak mampu memaafkan orang lain ? Atau
sebenarnya ini semua adalah murni keselahanku yang secara tidak langsung aku mengkambinghitamkan
manusia lain?
Hati gelisah tiap saat mengingat
dia. Seakan aku ingin menjauh darinya, benar-benar menjauh untuk waktu yang
lama. Aku sadar mungkin aku sedang kalut. Proses perubahan dari yang dulunya
menyayangi dan menghargainya hingga sekarang hampir masuk kedalam pintu gerbang
kebencian. Aku akan sangat membenci diriku bila kusadari bahwa aku membenci
spesies yang masih sama sepertiku, manusia.
Akhirnya yang ada hanyalah mulut
yang membisu. Tidak adalagi sapa senyum yang tulus seperti yang dulu sering
kuberikan untuknya. Tidak adalagi canda tawa yang dulu sering dilakukan
bersama-sama. Maka tinggalah jiwaku yang bersedih, badanku yang menangis dan
hatiku yang tersakiti. Hal yang baru kusadari bahwa membencinya adalah sebuah
kesakitan tersendiri untukku. Namun berusaha untuk lebih melapangkan hati
untuknya juga semakin membuat hatiku pedih.
Maka aku hanya ingin sendiri dulu,
melihat wajahnya saja sudah membuat aku teriris konom lagi harus berbicara.
Mungkin posisiku disini sedikit tidak menguntungkanku. Dimana dia sebagai
atasanku, yang seharusnya aku mampu membantu dia kapanpun dia butuhkan. Namun
melihat kondisiku seperti ini. Oh Tuhan, ini benar-benar saat yang sulit
untukku.
Berawal dari teman biasa, akhirnya
menjadi teman satu kelompok diskusi, jumlah kami banyak. Tapi aku berada dalam
satu tugas dengan dirinya. Sehingga kami mungkin sedikit lebih sering bersama.
Awal mungkin semua masih memahami sifatnya, dan aku sebagai patner kerjanya
berusaha memandang positif dirinya.
Secara sadar sebagian dari kami
sudah mulai risih dengan sifatnya. Yaa, setiap orang punya pandangan
masing-masing terhadap orang lain. Maka aku mencoba membujuk hati mereka untuk
tetap menerimanya. Tapi, tidak akan ada api kalau tidak ada asapnya. Maka perpecahan
mulai terlihat. Pemberontakkan atas sifat-sifatnya mulai terang-terangan
dibantah.
Keadaan ini membuatku sulit. Situasi
ini seperti memaksa aku untuk memlih, antara dia sebagai atasanku dan temanku,
atau mereka yang konotasinya juga merupakan teman bagiku. Sifatnya yang selalu
membuat diriku tidak bias apa-apa, semakin lama membuatku menyerah juga.
Hal ini terus berlangsung. Keadaan
semakin parah. Hingga akhirnya aku jatuh dalam batas kemampuan pengertianku.
Antara lelah terus mencoba mengerti atau memang sudah tidak ingin lagi mngerti
dia. Dia selalu terasa harus selalu sempurna, tanpa mengerti batas kemampuanku,
atau pekerjaanku yang selalu dianggap tidak ada membuatku benar-benar ingin
berhenti.
Maka, hal apa yang harus kulakukan
untuknya ? Mungkin rasa kecewa telah menghapus segalanya, pengertianku, usahaku
untuknya.
Kamis, 03 Juli 2014
Gen Sepuluh
Tertambahlah jumlah keluarga sekarang.
Inilah kami, para Pejuang Kalam, mencoba menarikan Tarian Kalam untuk bisa memperbaiki dunia.
Mungkin yang tertulis hanyalah kurun waktu setahun yang akan datang. Tapi hati ini telah terpaut, mencoba merangkaikan sebuah lingkaran yang tidak akan pernah ada akhirnya.
Mempersatukan semua prinsip, mempersatukan semua pikiran. Sehingga semua perbedaan sudah menjadi alasan untuk tetap bersama. Berbagai karakter, hidup bersama, maka yang ada hanyalah sebuah saling harga-menghargai. Maka semua akan saling hormat-menghormati.
Inilah kami, para Pejuang Kalam, mencoba menarikan Tarian Kalam untuk bisa memperbaiki dunia.
Mungkin yang tertulis hanyalah kurun waktu setahun yang akan datang. Tapi hati ini telah terpaut, mencoba merangkaikan sebuah lingkaran yang tidak akan pernah ada akhirnya.
Mempersatukan semua prinsip, mempersatukan semua pikiran. Sehingga semua perbedaan sudah menjadi alasan untuk tetap bersama. Berbagai karakter, hidup bersama, maka yang ada hanyalah sebuah saling harga-menghargai. Maka semua akan saling hormat-menghormati.
Penerbangan 2,5 Jam
Sekitar bulan Februari yang lalu.
Dewata memberi tempat untuk berpijak. Dewata menginzinkan untuk menikmati keindahannya. Walau judulnya berkompetisi, tapi isinya liburan. Walau belum menang, yang penting pengalaman juga pemandangan.
Pantai selalu memberikan nuansa tersendiri. Tidak pernah punya alasan untuk membenci ruih ombak. Bersahut-sahutan, tak pernah berhenti menyapa. Sesering apapun kita menggores luka pada pasirnya, selalu ada buih yang menghapusnya. Seakaan seperti takdir alam, bahwa setiap masalah pasti akan berakhir, akan terhapus, akan selesai.
Semakin banyak langkah kaki berjalan, semakin banyak mata melihat, semakin sering mulut bersyukur. Bahwa sungguh luar biasa Kuasa Mu, Allah SWT. Semakin terasa nikmat yang Engkau berikan, semakin cinta ini mendalam
Taman Garuda Wisnu Kencana
Tidak ada kata lain selain, Memuji-Mu, Subhanallah. Berawal dari bukit, diukir jadi cantik. sebuah perlambangan garuda, bahwa dialah kendaraan Wisnu dulu. Karena Dewata masih terkenal dengan sejarahnya.
Maka, terima kasih Dewata, atas pelajaran-pelajaran baru yang telah disiapkan pada setiap langkah kaki berpijak ditanahmu.
Mencintai Indonesia cantik, karena Mencintai Allah.
Dewata memberi tempat untuk berpijak. Dewata menginzinkan untuk menikmati keindahannya. Walau judulnya berkompetisi, tapi isinya liburan. Walau belum menang, yang penting pengalaman juga pemandangan.
Pantai selalu memberikan nuansa tersendiri. Tidak pernah punya alasan untuk membenci ruih ombak. Bersahut-sahutan, tak pernah berhenti menyapa. Sesering apapun kita menggores luka pada pasirnya, selalu ada buih yang menghapusnya. Seakaan seperti takdir alam, bahwa setiap masalah pasti akan berakhir, akan terhapus, akan selesai.
Semakin banyak langkah kaki berjalan, semakin banyak mata melihat, semakin sering mulut bersyukur. Bahwa sungguh luar biasa Kuasa Mu, Allah SWT. Semakin terasa nikmat yang Engkau berikan, semakin cinta ini mendalam
Taman Garuda Wisnu Kencana
Tidak ada kata lain selain, Memuji-Mu, Subhanallah. Berawal dari bukit, diukir jadi cantik. sebuah perlambangan garuda, bahwa dialah kendaraan Wisnu dulu. Karena Dewata masih terkenal dengan sejarahnya.
Maka, terima kasih Dewata, atas pelajaran-pelajaran baru yang telah disiapkan pada setiap langkah kaki berpijak ditanahmu.
Mencintai Indonesia cantik, karena Mencintai Allah.
Kamis, 03 April 2014
Jangan Pisahkan Kita
assalammualaikum.
Sejak hari ini aku semakin sadar bahwa bersamamu adalah memang pilihanku. Bahwa bersamamu adalh sulit untuk duniaku. Tapi sebagian besar dariku menyuruhku agar tetap terus bersamamu. Apakah memang terlalu rumit perbedaan diantara kita ? sehingga selalu ada kata 'kami' diantara aku, kau dan mereka semua.
Kalau dibilang berat, ini adalah sungguh berat. Antara mereka dan kau bagiku bukan sebuah pilihan. Karena kau dan mereka sudah harga mati untukku, harus ada di kehidupanku. Sungguh aku mohon, jangan biarkan aku memilih antara itu.
Maafkan aku ....
Mungkin sebagian dariku tidak bisa menerima bahwa aku dan dia berbeda. Dan mungkin bagi kalian perbedaan itu terlalu jauh dan memang tak bisa disatukan. Sedangkan hatiku tidak pernah membaca ada kata perbedaan diantara kita semua.
Bukankah kita menghirup udara yang sama ? Dengan kadar oksigen yang sama pula kan ? Tanah yang kita pijak sama hitamnya, bahkan rumput yang tumbuh disana juga sama.
Salah aku menyingkirkan perbedaan itu semua ? Selama diantara kita semua masih ada asas saling menghargai, sulit bagiku untuk berpisah dengan siapapun disini..
How many times do I have to tell you
Even when you're crying you're beautiful too
The world is beating you down, I'm around through every mood
You're my downfall, you're my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can't stop singing, it's ringing in my head for you
Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
Cause I give you all of me
And you give me all of you
Sejak hari ini aku semakin sadar bahwa bersamamu adalah memang pilihanku. Bahwa bersamamu adalh sulit untuk duniaku. Tapi sebagian besar dariku menyuruhku agar tetap terus bersamamu. Apakah memang terlalu rumit perbedaan diantara kita ? sehingga selalu ada kata 'kami' diantara aku, kau dan mereka semua.
Kalau dibilang berat, ini adalah sungguh berat. Antara mereka dan kau bagiku bukan sebuah pilihan. Karena kau dan mereka sudah harga mati untukku, harus ada di kehidupanku. Sungguh aku mohon, jangan biarkan aku memilih antara itu.
Maafkan aku ....
Mungkin sebagian dariku tidak bisa menerima bahwa aku dan dia berbeda. Dan mungkin bagi kalian perbedaan itu terlalu jauh dan memang tak bisa disatukan. Sedangkan hatiku tidak pernah membaca ada kata perbedaan diantara kita semua.
Bukankah kita menghirup udara yang sama ? Dengan kadar oksigen yang sama pula kan ? Tanah yang kita pijak sama hitamnya, bahkan rumput yang tumbuh disana juga sama.
Salah aku menyingkirkan perbedaan itu semua ? Selama diantara kita semua masih ada asas saling menghargai, sulit bagiku untuk berpisah dengan siapapun disini..
What would I do without your smart mouth
Drawing me in, and you kicking me out
Got my head spinning, no kidding, I can't pin you down
What's going on in that beautiful mind
I'm on your magical mystery ride
And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright
Drawing me in, and you kicking me out
Got my head spinning, no kidding, I can't pin you down
What's going on in that beautiful mind
I'm on your magical mystery ride
And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright
How many times do I have to tell you
Even when you're crying you're beautiful too
The world is beating you down, I'm around through every mood
You're my downfall, you're my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can't stop singing, it's ringing in my head for you
Cards on the table, we're both showing hearts
Risking it all, though it's hard
Risking it all, though it's hard
Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
Cause I give you all of me
And you give me all of you
I give you all of me
And you give me all of you
when you love me I love you to forever
And you give me all of you
when you love me I love you to forever
Setidaknya inilah kata yang ingin aku ucapkan untuk kalian. Bahwa aku mencintai kalian dengan seluruhnya aku. Aku mencintai segala kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan kalian. Bahkan ketika dunia sudah menjantuhkan kalian, aku akan selalu ada, pasti ada untuk kalian, hanya untuk kalian...
untuk kalian,
para sahabatku, para manusia-manusia pentingku...
Kamis, 06 Maret 2014
Jumat, 7 Maret 2014, 13.00
Apakah kesendirian adalah kesakitan ?
Apakah kesepian adalah kesakitan ?
Apakah kesunyian adalah kesakitan ?
Jika memang bukan, namun kenapa hati ini terasa pedih. Maka sejatinya hanyalah air matalah yang mampu menjawab.
Mengingkari semuanya. mencoba berdiri tegak menantang semuanya. Namun ketika semua pergi, bulir bening itu yang meyakinkanku bahwa semua memang terasa sakit.
lidah terlalu kelu untuk memohon agar semuanya tetap disini. Terlalu malu untuk memohon untuk jagan diam, untuk jangan pergi.
Apakah kesepian adalah kesakitan ?
Apakah kesunyian adalah kesakitan ?
Jika memang bukan, namun kenapa hati ini terasa pedih. Maka sejatinya hanyalah air matalah yang mampu menjawab.
Mengingkari semuanya. mencoba berdiri tegak menantang semuanya. Namun ketika semua pergi, bulir bening itu yang meyakinkanku bahwa semua memang terasa sakit.
lidah terlalu kelu untuk memohon agar semuanya tetap disini. Terlalu malu untuk memohon untuk jagan diam, untuk jangan pergi.
Rabu, 22 Januari 2014
Bumi Beratap Langit
Aku sudah semakin jauh berjalan dalam lorong waktuku. Bertemu dengan beragam wajah, beragam tingkah, dan beragam sifat. Menikmati setiap detik yang kujalani. Mengambil setiap keeping-keping cinta yang berhasil kukumpulkan di waktu laluku. Karena aku yakin selalu ada cinta disetiap waktu kita.
Hanya saja kita terlalu takut dengan “benda tak berwujud” itu namun sungguh hebat bila dirasakan. Rasanya terlalu tabu untuk menyentuhnya. Layaknya peninggalan prasejarah, yang cukuplah diletakkan dalam etalase kaca. Dia hanya perlu dipandang, tidak boleh untuk dipegang, bahkan mungkin dimiliki.
Benda biru ini bulat, tak pernah kita tahu dimana titik ujungnya. Apakah itu di Kutub Utara atau di Kutub Selatan ? aku saja tak pernah menginjakkan kaki disana.
Beribu macam spesies yang hidup di dunia ini. Semuanya hidup, menggunakan udara yang sama untuk bernafas,menggunkan tanah yang sama untuk di injak. Namun kenapa kita meyekat diri kita sendiri ?. Seorang bapak tua, aku lupa namanya, dia tidak pernah mandi selama 60 tahun, pernah berkata “aku bisa tinggal dimana saja, di gua, di pohon, di gurun. Karena bumi adalah rumahku dan langit adalah atapku”. Tak pernah ada sekat di hidupnya karena memang dia tidak pernah membuat sekat itu. Sedang kita ? sibuk membuat pagar-pagar yang terlalu tinggi. Seakan-akan dibalik pagar itu adalah dunia milik kita sendiri, yag orang tidak boleh ikut campur tangan, bahkan tidak boleh hanya sekedar melihat saja. Atau sampai ada yang membuat papan lalu digantung diantara tiang-tiang pagarnya “Jangan parkir didepan pintu !” atau “Awas anjing galak !”. betapa semakin menyeramkan bangunan dibalik pagar itu. Masih banyak bentuk-bentuk lain keegoisan kita pada bumi ini. Banyak tawa yang seharusnya bisa kita bagi. Karena cinta memang untuk dinikmati bersama. Bukan hanya berlaku pada sepasang cucu adam dan cucu hawa yang didasari pada sebuah hubungan dengan ikatan kepercayaan pada suatu perasaan yang mutual, yang menurut mereka bahwa takdir mereka adalah bersama. Kenikmatan yang sering mereka sebut dengan Dunia Ini Hanya Milik Kita Berdua. Mungkin kalau lah bisa bumi ini dipagar,maka akan segera bertengger papan-papan lain. Aku bukan ingin terlalu memuja Dewa Amor, hanya saja kenyataan di bumi ini membuat semua terasa sangat sempit. Bahwa sekarang kita merasa memang perlu membuat batas-batas itu. Batas-batas yang terlalu meisahkan kita, memisahkan aku dengan makhluk lain yang masih bernama manusia. Bahwa kita hanya boleh berinteraksi dengan sesama “kita”. Kita yang didalamnya di asaskan hanya pada sebuah persamaan dan membuang segala bentuk perbedaan yang ada. Perlahan-perlahan batas itu semakin tegas, semakin terpisah , tidak ada kita lagi, yang ada hanya sebuah Kami, sebuah kata lain bahwa tidak semua manusia bumi adalah kami. Aku yang terlalu baik untuk masuk dalam lingkaran kami. Aku yang tidak bisa untuk nurut pada semua peraturan. Aku punya takdir untuk manusia lain. Aku masih ingin bertemu dengan bentuk lain dari aku. Bukan hanya pada sebuah lingkarann tertutup diantara Kami. Terlau banyak toleransi yang tidak perlu kita buang. Terlalu banyak tawa yang seharusnya ditakdirkan untuk terlepas. Namun kita yang terlalu keras kepala untuk menggagalkannya. Kita buat batas-batas yang terlalu tinggi. Padahal tebing saja punya jembatan untuk tetap terhubung. Langit yang begitu tingginya masih mau menyapa bumi lewat hujannya. Ketika masih ada asas harga-menghargai maka sejatinya adalah omong kosong bila kita tetap berdiri dalam sekat itu. Bahwa fitrah manusia adalah hidup bersama dalam berbagai perbedaan. Bahwa agama adalah tetap agama. Tapi ketika hubungan hormat-menghormati masih berjalan, alangkah baiknya pintu itu kita buka. Sebuah bentuk kepercayaanku bahwa kita semua adalah saudara, tanpa perduli siapa Tuhan kita. Aku tetap dengan Tuhanku, ketika makhluk diluar aku yang lain masih menghormati Tuhanku. Maka aku tidak punya alasan lain untuk tidak meghormati kepercayaan mereka. Karena semuanya adalah diferensial dari sebuah rasa cinta. Kenikmatan yang bukan hanya milik sendiri. Semuanya berintegarasi dalam bumi ini. Membuat semuanya berotasi pada tempatnya.
Hanya saja kita terlalu takut dengan “benda tak berwujud” itu namun sungguh hebat bila dirasakan. Rasanya terlalu tabu untuk menyentuhnya. Layaknya peninggalan prasejarah, yang cukuplah diletakkan dalam etalase kaca. Dia hanya perlu dipandang, tidak boleh untuk dipegang, bahkan mungkin dimiliki.
Benda biru ini bulat, tak pernah kita tahu dimana titik ujungnya. Apakah itu di Kutub Utara atau di Kutub Selatan ? aku saja tak pernah menginjakkan kaki disana.
Beribu macam spesies yang hidup di dunia ini. Semuanya hidup, menggunakan udara yang sama untuk bernafas,menggunkan tanah yang sama untuk di injak. Namun kenapa kita meyekat diri kita sendiri ?. Seorang bapak tua, aku lupa namanya, dia tidak pernah mandi selama 60 tahun, pernah berkata “aku bisa tinggal dimana saja, di gua, di pohon, di gurun. Karena bumi adalah rumahku dan langit adalah atapku”. Tak pernah ada sekat di hidupnya karena memang dia tidak pernah membuat sekat itu. Sedang kita ? sibuk membuat pagar-pagar yang terlalu tinggi. Seakan-akan dibalik pagar itu adalah dunia milik kita sendiri, yag orang tidak boleh ikut campur tangan, bahkan tidak boleh hanya sekedar melihat saja. Atau sampai ada yang membuat papan lalu digantung diantara tiang-tiang pagarnya “Jangan parkir didepan pintu !” atau “Awas anjing galak !”. betapa semakin menyeramkan bangunan dibalik pagar itu. Masih banyak bentuk-bentuk lain keegoisan kita pada bumi ini. Banyak tawa yang seharusnya bisa kita bagi. Karena cinta memang untuk dinikmati bersama. Bukan hanya berlaku pada sepasang cucu adam dan cucu hawa yang didasari pada sebuah hubungan dengan ikatan kepercayaan pada suatu perasaan yang mutual, yang menurut mereka bahwa takdir mereka adalah bersama. Kenikmatan yang sering mereka sebut dengan Dunia Ini Hanya Milik Kita Berdua. Mungkin kalau lah bisa bumi ini dipagar,maka akan segera bertengger papan-papan lain. Aku bukan ingin terlalu memuja Dewa Amor, hanya saja kenyataan di bumi ini membuat semua terasa sangat sempit. Bahwa sekarang kita merasa memang perlu membuat batas-batas itu. Batas-batas yang terlalu meisahkan kita, memisahkan aku dengan makhluk lain yang masih bernama manusia. Bahwa kita hanya boleh berinteraksi dengan sesama “kita”. Kita yang didalamnya di asaskan hanya pada sebuah persamaan dan membuang segala bentuk perbedaan yang ada. Perlahan-perlahan batas itu semakin tegas, semakin terpisah , tidak ada kita lagi, yang ada hanya sebuah Kami, sebuah kata lain bahwa tidak semua manusia bumi adalah kami. Aku yang terlalu baik untuk masuk dalam lingkaran kami. Aku yang tidak bisa untuk nurut pada semua peraturan. Aku punya takdir untuk manusia lain. Aku masih ingin bertemu dengan bentuk lain dari aku. Bukan hanya pada sebuah lingkarann tertutup diantara Kami. Terlau banyak toleransi yang tidak perlu kita buang. Terlalu banyak tawa yang seharusnya ditakdirkan untuk terlepas. Namun kita yang terlalu keras kepala untuk menggagalkannya. Kita buat batas-batas yang terlalu tinggi. Padahal tebing saja punya jembatan untuk tetap terhubung. Langit yang begitu tingginya masih mau menyapa bumi lewat hujannya. Ketika masih ada asas harga-menghargai maka sejatinya adalah omong kosong bila kita tetap berdiri dalam sekat itu. Bahwa fitrah manusia adalah hidup bersama dalam berbagai perbedaan. Bahwa agama adalah tetap agama. Tapi ketika hubungan hormat-menghormati masih berjalan, alangkah baiknya pintu itu kita buka. Sebuah bentuk kepercayaanku bahwa kita semua adalah saudara, tanpa perduli siapa Tuhan kita. Aku tetap dengan Tuhanku, ketika makhluk diluar aku yang lain masih menghormati Tuhanku. Maka aku tidak punya alasan lain untuk tidak meghormati kepercayaan mereka. Karena semuanya adalah diferensial dari sebuah rasa cinta. Kenikmatan yang bukan hanya milik sendiri. Semuanya berintegarasi dalam bumi ini. Membuat semuanya berotasi pada tempatnya.
Kamis, 14 Februari 2013
Aku Ingin
-->
Aku ingin menjadi
penyair
Namun puisiku tak
mampu menyanjungmu
Aku ingin menjadi
pelukis
Namun lukisanku
tak seindah pelangi
Aku juga ingin
jadi pelaut
Aku pun tak
pandai melabuhkan kapal sendirian
Bahkan aku ingin
menjadi penjahit
Tapi tetap juga
aku tak mampu merajut baju hangatmu
Maka aku ingin
engkau mainkan musikmu
Akan aku nyanyikan puisiku
Maka kita akan
terbang ke langit ketujuh
Maka aku ingin
kau warnai kanvas itu dengan warna-warnimu
Akan ku sapu
dengan kuas kuasku
Maka kita akan
berayun di pelangi
Aku pun ingin
engkau menjadi nahkoda kapal itu
Maka kapalku pun
akan berlabuh di pulau kita
Bahkan aku pun
ingin tanganmu yg memegang jarum itu
Maka benangku
akan merajut baju itu
Selimuti kita
dalam kehangatan
Kamis, 27 Desember 2012
Love is Simple
Assalammualaikum….
Tuhan adalah
Maha Cinta
Tuhan adalah
Maha Kasih
Tuhan adalah
Maha Sayang
Banyak hal
yang ingin aku ungkapkan dalam tulisanku kali ini. Semenjak adamku kehilangan
bundanya pikiranku semakin kacau. Entahlah, tulisan kali ini hanya bertema
tentang cinta, namun sungguh maaf bila alurnya tidak jelas. Aku hanya ingin
sedikit mengurangi jeritan jiwaku.
Semenjak
tanggal 24 Desember 2012, terhitunglah hari ia mulai kehilangan bundanya.
Semenjak itu pikiranku kalut. Kecemasan tentang dirinya mulai menghampiriku.
Kau tahu apa yang kutakutkan ? Semangatnya. Semangat untuk meraih cita-citanya
di Malang sana.
Bahkan aku
takut dia merasakan sedih berkenpanjangan. Hingga kumintalah pada Tuhanku,
untuk mengalihkan sedihnya untukku saja. Perasaan macam apa itu ? Aku menghadiri
pemakaman bundanya. Aku tak mampu membayangkan menjadi dirinya, bahkan untuk
terakhir kalinya, dia tak bisa melihat wajah bundanya. Dari Malang ia terbang
pukul 10 malam. Sedangkan bundanya harus dimakamkan hari itu juga.Oo Tuhan,
kuatkan hatinya.
Tuhan ...
Rencana apalagi yang ingin kau sampaikan
padaku.Bukankah kepergian bundanya merupakan hal berat baginya ? Apa Kau yakin
dia mampu melewatinya ?. Tuhan izinkan kau dengarkan doaku kali ini, aku
mohonn. Aku berdoa untuknya, Tuhan.
Tuhan, kuatkan hatinya. Buatlah ini menjadi
kekuatan baru untuk hidupnya. Tuhan, peluk dia, aku mohooon. Bantu dia
menggapai mimpi-mimpinya, berikan dia hidup dan senyuman baru.
Itulah
sedikit doaku untuknya. Sosok yang sudah tertata rapi dihariku. Dialah manusia
yang paling kunanti kehadirannya. Bahkan saat sekarang ini, sampai tanggal 29
nanti dia masih di Binjai. Sejujurnya, masih berani aku berharap dia mau
bertemu denganku berharap ia mau menyempatkan mengembalikan buku yang dulu
katanya belum sempat ia kembalikan padaku. Jahat sekali aku ya ? egois ? sangat
egois. Tapi sisi hatiku kadang merelakannya. Yang terpenting adalah dirinya,
dirinya dan senyumannya, dirinya dan semangatnya. Kemarin tanggal 25 desember,
teman-temanku berkunjung kerumahnya. Aku telah datang kerumahnya saat
kemarinnya. Walau bibirku mengatakn aku tak ingin datang lagi, namun hatiku
terus mengharapkan ada yang ingin mengajakku kesana lagi. Tapi suratan Tuhan
tidak seperti itu, aku hanya diwajibkan dirumahku berdoa untuknnya. Ikhlasss
... walau berat.
Sejak saat
itu hatiku mulai sakit. Sakit menahan rasa rindu padanya, sakit menahan
kecemasan yang tak juga mampu tersampaikan. Rasa ini sudah terlalu lama
dihatiku, sejak 4 tahun yang lalu. Dan sampai sekarang rasa itu tidak pernah
pudar untuknya. Rinduku masih untuknya, bahkan zona nyamanku masih berada
padanya. Aku tak mengerti maksud Tuhan apa memberiku cinta yang sebesar ini.
Padahal Dia tahu sendiri, aku terlalu lemah untuk memikulnya. Apa yang harus
kulakukan bila cinta ini selalu bertepuk pada tanganku saja??
Tapi itulah
cinta, selalu ada keindahan dibalik semuanya. Aku mencintainya. Tidak ada koma
untuk kalimat itu. Tunggu dulu, apakah itu cocok untuk rasaku ini ? Aku tak
perduli, mau itu namanya cinta ataupun kasih dan sayang, yang ku tahu bahwa aku
selalu merindukannya dan berdoa untuk kebahagiannya, selalu. Aku tak mau
mengatakan selamanya, namun di dalam kesdaranku hari ini, aku masih
mencintainya dan aku masih berdoa untuk kebahagiaannya.
Jangan kau
kira yang kusebut sebagai adamku juga merasakan hal yang sama sepertiku. Itu
masih menjadi harapan terindah buatku sampai aku menulis ini. Bintang akan
tetap berada dilangit, namun demikian aku tetap mencintainya. Sejak 4 tahun
lalu kupendam rasaku ini padanya. Aku ralat, aku tak berani mengatakan bahwa
dia tak pernah tahu rasaku ini. Dulu saat SMA, kami pernah bersama, tapi hanya
3 bulan. Sejak saat itu mulailah dia asyik dengan kehidupannya. SMA adalah masa
yang paling indah bagiku, walau kami hanya berteman namun kepeduliannya
melebihi seorang teman.Dan celakanya sampai saat ini aku masih berharap akan
hal itu walaupun aku sadar sudah lebih dari satu tahun masa itu berlalu.
Aku
mencintainya tanpa alasan apapun. Tak perduli orang berkata apa. Bahkan ketika
ia mungkin tidak perduli lagi padaku. Kau mengerti kenapa aku sebutkan mungkin
? Sebagian dari hatiku masih sedikit meyakini bahwa dia belumlah berubah, dia
masih tetap perduli dengannku. Karena kutahu bahwa dia menunjukkan rasa
pedulinya padaku dengan sentuhan yang berbeda, walau sering kenyataan
memberitahukan padaku bahwa ia memang benar-benar sudah berubah. Apapun yang
terjadi, sampai saat ini masih dia yang menajdi energi ditiap hariku. Dialah
rotasi dalam bumiku, hingga bila aku kehilangannya maka aku kehilangan
rotasiku, dan kau pasti tahu apa yang terjadi dengan bumiku, aku akan hancur.
Mencintainya sudah menjadi denyut dalam jantungku, mengalir layaknya oksigen
dialiran darahku, dan bila dia menghilang, maka aku akan berhenti bernafas.
Aku
mencintainya tanpa maksud apapun. Saat ini yang kutahu bahwa perasaankulah
mengisyaratkan padaku bahwa aku mecintainya dalam rindu dihari-hariku.Bukan
karena materi yang dia miliki, aku hanya mencintai sosoknya, dialah manusia
yang paling kaya karena dia punya cinta untuk membuat aku bisa bernafas lebih
lega sampai saat ini. Bahkan aku tak perduli pada parasnya, namun dialah
manusia yang paling tampan di duniaku. Aku hanya ingin melihat dia bahagia,
senyuman hatinya itu sudah cukup untukku. Walau sampai sekarang aku masih
melebarkan ruang tingkap pengertian, bila memang bukan aku tulang rusuk
baginya. Tapi mencintainya adalah keindahan bagiku. Sungguh, mencintainya
adalah morfin kala sakau menyerangku. Hingga ku sadari aku telah candu untuk
terus mencintainya.
Aku
mencintainya dengan segala kemurahan hatiku. Aku tak pernah ingin dia membayar
setiap cinta dan doa yang kuberikan padanya. Sampai hari ini, masih terus
kuselipkan kebahagiannya disetiap sembah sujud dalam tiap shalatku. Senyuman
tulus sudah cukup untuk membayar tiap doaku pada Tuhanku untuknya.
Kebahagiannya sudah cukup menjadi imbalan dari cinta yang kualirkan untuknnya.
Inilah cintaku padanya, aku tak perlu sedu sedan meminta dia untuk melihatku.
Karena aku yakin aku punya Tuhan yang mengantur segala hidup dan cintaku. Dan
memang aku mencintainya dengan segenap kemurahan hatiku, tanpa perlu bayaran
dan imbalan. Karena mencintainya sudah menjadi kaki dalam tiap langkahku,
hingga bila dia tidak ada maka aku akan berhenti melangkah.
Aku mencintainya
dengan sesadar-sadarnya aku.Inilah cinta, selalu ada kebahagian disetiap
perihnya. Cinta adalah senyuman dalam setiap keindahan dan kebahagian. Didalam
perih disetiap cintaku selalu kutemukan keindahan dalam kebahagian. Karena
kebahagian tidak perlu dicari hanya perlu ditemukan dalam setiap luka yang
terbersit. Aku yakin, perih dan kebahagian selalu berjalan berdampingan,
tinggal aku saja ingin menggengam pada sisi yang mana. Yah, aku bahagia karena
aku mencintainya. Aku tak pernah setengah hati untuk mencintainya. Inilah
setulus-tulusnya hatiku, tanpa perlu aku harus memiliki raga dan hatinya.
Keajaiban cinta dalam duniaku, karena cinta tak perlu memiliki. Karena cinta
adalah kebahagian, bahagia karena aku masih diberi kesempatan dari yang Maha
Cinta untuk bisa merasakan , bisa menberikan cinta untuknya.
Aku
mencintaimu karena aku ingin bahagia. Maka aku ingin terus mencintaimu dalam
doaku. Karena ketika aku mencintaimu, aku melihat Tuhanku pada dirimu, hatiku
akan damai sama seperti aku bersama Tuhanku. Bahkan aku tidak perduli bila aku
bukan jodohku. Karena aku masih punya Tuhanku, Tuhanku yang selalu mencintaiku,
seperti aku mencintaimu.
Cinta
datang ketika cinta membutuhkan cinta ..
dari yang rindu jiwanya
Nahrissa
