Bukan karena dia kaya , bukan karena fisiknya, tapi pesonanya begitu dalam. Sosoknya sudah tak asing lagi di mata semua. Sosoknya begitu kental dengan tawa, dan canda darinya. Sosoknya begitu dekat dengan pujian. Saat dia lewat di depan orang, tak sungkan di sungingkannya senyum dari bibirnya, begitu ramah. Dialah sosok berlian itu, sinarnya tak kan pernah redup. Dimana pun, dia tetap berlian.
Aku begitu memujinya, sangat memujanya. Bukan karena fisiknya atau materi yang dimilikinya, tapi karena pesona dari jiwanya, dari dalam dirinya. Pesona itu begitu kuat, membuat hatiku begitu memujinya. Menatapnya membuatku senang. Sungguh, sorot matanya cukup membuat jiwa tenang.
Dialah berlian itu. Dialah yang selalu berdiri didepan kelas, dialah yang berusaha untuk menyelesaikan masalah, dialah tangan kanan itu. Dialah yang di panggil saat kesusahan, dialah yang dpanggil saat ada kemenangan. Karena dialah berlian itu, pesonanya begitu kuat, walaupun di sekitarnya mutiara-mutiara bangsa begitu banyak bertebaran. Tapi, pesonanya lebih dari mutiara-mutiara itu.
Sosoknya begitu di tunggu, sosoknya dinanti, sosoknya selalu di cari. Setiap hari, harapan hanyalah kehadiran dia. Semua tak ingin di absen hari ini, besok, atau lusa, atau kapanpun.
Dialah sosok berlian itu. Aku begitu memujinya, begitu memujanya. Lihatlah wajahnya tak pernah di singgahi murung. Hidupnya tak ada menyerah, dia terus berjalan, walau ku lihat batu besar menghalanginya, tapi dia berusaha melewatinya. Tak ada yang mampu menghentikannya, tak satupun. Saat dia lelah berlari, kakinya melangkah, tapi tak berhenti. Karena dialah berlian itu.
Dia semakin tinggi, puncak telah menantinya. Tapi, tantangan yang dihadapinya semakin berat pula. Tak selamanya putih akan selalu putih, pasti ada yang mengotorinya, pujian selalu melekat padanya, tapi, tatatapan sinis dan gumanan benci pasti ada diantara pujian itu. Lihatlah. Dia hanya tersenyum, wajahnya begitu tenang. Hmm, sungguh dialah berlian itu.
Saat pesonanya ingin di redupkan, dia hanya diam. Dia tak pernah peduli hal itu. Tak semua ada di sampingnya, diantara mereka ada tatapan sinis yang diberikan padanya. Walau tak pernah terlihat, tapi aku tahu. Aku ingin bilang, aku ingin mereka tahu, aku ingin mereka sadar bahwa mereka menyesal telah berpikir seperti itu. Tapi , aku tak berdaya, kalian tahu ? karena aku hanya melihat dari sisi gelapku, tanpa berani menyentuhnya.
Aku begitu mengenalnya, dia bukan seperti yang mereka pikirkan. Mereka salah, karena mereka tak mengenal dia ! Mereka hanya sok tahu. Aku tahu berlian itu pasti ada selanya, dia tetap manusia biasa. Seseorang pasti punya salah, bahkan dia. Aku tahu, dia punya salah dengan mereka. Mereka terlaalu, mereka hanya melihat di satu sisi ! mereka tak melihat dia di sisi yang lain. Dimana pun dia tetap berlian .
Mereka belum begitu mengenalnya, aku lebih tahu tentang dia. Walau tak semua yang ku tahu.
Apakah mereka pernah berpikir untuk bagaimana untuk bisa hidup di bawah kaki sendiri ? Apa mereka pernah berpikir saat mereka harus di posisi dia ? Saat harus iri melihat keluarga kecil yang lengkap sedang asyik menikmati liburan. Dialah berlian itu, tapi dirinya sudah tak lengkap, setengah jiwanya telah pergi. Tapi dia merasa tak pernah ada yang kurang. Karena dia selalu mengingat yang telah hilang, setiap kata yang keluar dari setengah bagian dirinya. Dia telah kehilangan setengah dari dirinya. Pesonanya semakin kuat. Niat tulus dihatinya menjadikan pesona semakin indah memancar dari dalam dirinya. Dialah sosok berlian itu, pesonanya tak terkalahkan oleh para mutiara itu.
Sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain

0 komentar:
Posting Komentar